Perangkat Pembelajaran Kurikulum 2013

Berbagai materi Mata Pelajaran PJOK jenjang SD dan SMP dapat anda temukan disini.

RPP, Silabus, Prota, Promes, dan lainnya

Perangkat Pembelajaran PJOK jenjang SD dan SMP.

Materi PJOK

Peran aktivitas fisik terhadap pencegahan penyakit - PJOK KELAS IX SMP.

Rabu, 04 September 2024

Sebuah Koneksi Antar Materi dari Pembelajaran Berdiferensiasi

 

·         Buatlah kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi dan bagaimana hal ini dapat dilakukan di kelas.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu murid. Pembelajaran berdiferensiasi juga berarti serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Agar pembelajaran berdiferensiasi ini dapat dilakukan di kelas, guru perlu mengkategorikan kebutuhan belajar murid dimana paling tidak berdasarkan 3 aspek. Ketiga aspek tersebut adalah: kesiapan belajar (readiness) murid, minat murid, dan profil belajar murid.

 

·         Jelaskan bagaimana pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal. Jelaskan pula bagaimana Anda melihat kaitan antara materi dalam modul ini dengan modul lain di Program Pendidikan Guru Penggerak.

A.    Bagaimana Pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal?

Sebagai guru, kita semua tentu tahu bahwa murid memiliki keunikan masing-masing bahkan saudara kembar sekalipun akan berbeda. Perbedaan ini tentu perlu diakomodir dengan sebuah pendekatan. Dimana salah satunya pembelajaran berdiferensiasi. Kita sebagai guru tentu juga tahu bahwa murid akan menunjukkan kinerja yang lebih baik (hasil belajar yang optimal) jika:

1.       Tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya (kesiapan belajar);

2.       Tugas-tugas tersebut memicu keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang murid (minat);

3.       Tugas itu memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai (profil belajar).

Apabila kita sudah dapat mengidentifikasi kebutuhan belajar murid sesuai 3 aspek tersebut maka dalam menerapkan atau cara melakukan pembelajaran berdiferensiasi di kelas dilakukan dengan mengkategorikan murid berdasarkan pembagian 3 kelompok atau lebih. Caranya dengan teknik berikut:

1.       Diferensiasi Konten:

o   Menyediakan materi pembelajaran yang bervariasi seperti video, gambar, permainan interaktif, atau kegiatan kelompok.

o   Menyesuaikan bahan ajar berdasarkan minat, gaya belajar, dan kesiapan murid.

2.       Diferensiasi Proses:

o   Menggunakan kegiatan berjenjang yang sesuai dengan tingkat pemahaman murid.

o   Menyediakan pertanyaan atau tantangan yang berbeda untuk setiap murid berdasarkan minat mereka.

o   Membuat agenda individual yang berisi daftar tugas dengan variasi waktu pengerjaan.

3.       Diferensiasi Produk:

o   Meminta murid untuk menunjukkan hasil belajar mereka dalam bentuk yang berbeda seperti karangan, pidato, video, diagram, atau proyek lainnya.

 

B.    Bagaimana kaitan antara materi dalam modul ini dengan modul lain di Program Pendidikan Guru Penggerak?

Kaitan antara materi dalam modul pembelajaran berdiferensiasi dengan modul filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara (KHD), nilai, peran, dan visi guru penggerak, serta budaya positif di program pendidikan guru penggerak:

1.       Kaitan antara pembelajaran berdiferensiasi dengan Filosofi KHD

Ing Ngarsa Sung Tuladha: Dalam konteks pembelajaran berdiferensiasi, guru harus menjadi teladan dalam menghargai perbedaan individual murid dan menunjukkan cara mengakomodasi kebutuhan masing-masing murid.

Ing Madya Mangun Karsa:  Guru harus mampu membangun semangat belajar murid melalui pendekatan yang sesuai dengan minat dan gaya belajar mereka.

Tut Wuri Handayani:  Guru memberikan dorongan dan dukungan kepada murid untuk mencapai potensi maksimal mereka dengan cara yang paling sesuai bagi masing-masing individu.

2.       Kaitan antara pembelajaran berdiferensiasi dengan nilai, peran dan visi guru penggerak

Kolaborasi:  Pembelajaran berdiferensiasi mendorong guru untuk bekerja sama dengan guru lain, orang tua, dan komunitas dalam merancang dan menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid.

Inovasi:  Guru penggerak perlu berinovasi dalam merancang metode pembelajaran yang dapat mengakomodasi perbedaan individual murid, sehingga setiap murid merasa dilibatkan dan termotivasi untuk belajar.

Kepemimpinan:  Guru penggerak harus memimpin dengan memberikan contoh bagaimana pembelajaran berdiferensiasi dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar murid.

3.       Kaitan antara pembelajaran berdiferensiasi dengan budaya positif

Penghargaan terhadap keberagaman:  Pembelajaran berdiferensiasi menghargai keberagaman kemampuan, minat, dan gaya belajar murid yang merupakan fondasi dari budaya positif.

Lingkungan belajar yang inklusif:  Dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, guru menciptakan lingkungan belajar di mana setiap murid merasa diterima dan didukung.

Motivasi dan keterlibatan murid:  Ketika murid merasa bahwa kebutuhan dan minat mereka diperhatikan, mereka akan lebih termotivasi dan terlibat dalam proses belajar, yang memperkuat budaya positif di sekolah.

 

Dengan demikian, materi dalam modul pembelajaran berdiferensiasi sangat terkait erat dengan modul lain di Program Pendidikan Guru Penggerak sebelumnya (filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, nilai, peran, dan visi Guru Penggerak, serta budaya positif). Semua paket pembelajaran modul ini saling mendukung untuk menciptakan pendidikan yang lebih inklusif, adaptif, dan memerdekakan murid serta menuntun saya untuk menjadi agen perubahan sekaligus pemimpin pembelajaran.

Rabu, 28 Agustus 2024

Penyebaran Pemahaman dan Pengalaman Budaya Positif di SMPN 12 Prabumulih

 

Pendahuluan

Sebagai calon guru penggerak, saya merasa sangat terhormat dapat berbagi pemahaman tentang modul budaya positif kepada rekan-rekan guru saya di SMP Negeri 12 Prabumulih. Modul ini memberikan perspektif baru dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan berpihak pada murid. Kegiatan aksi nyata dalam bentuk diseminasi ini menambah pemahaman saya dalam mempelajari dan menerapkan modul 1.4 budaya positif di sekolah. Saya begitu antusias dan jelas sedikit cemas ketika menjadi pembicara dihadapan dewan guru. Meskipun akhirnya saya dapat menyelesaikan dengan baik dan tanpa kekurangan apapun. Dalam sesi diseminasi, saya memulai dengan memberikan gambaran umum tentang pentingnya budaya positif dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Saya menjelaskan bahwa budaya positif melibatkan hubungan yang positif antara guru dan murid serta rasa memiliki di antara seluruh anggota kelas. Selanjutnya, saya menguraikan materi inti modul budaya positif dengan contoh konkret untuk mempermudah pemahaman rekan-rekan guru.

Adapun konsep-konsep kunci dalam Modul Budaya Positif, yaitu perubahan paradigma belajar, Disiplin Positif dan Nilai-Nilai Kebajikan Universal, Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi, Keyakinan Kelas, Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas, Restitusi - Lima Posisi Kontrol, Restitusi - Segitiga Restitusi. Semuanya akan kita bahas satu-persatu.

1.       Perubahan Paradigma Belajar

Salah satu konsep dasar dalam modul ini adalah perubahan paradigma. Kita diarahkan untuk beralih dari paradigma stimulus-respons, di mana perilaku murid dianggap sebagai reaksi terhadap tindakan guru, menuju teori kontrol. Dalam teori kontrol, guru memiliki peran aktif dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif dan memotivasi murid untuk mengambil tanggung jawab atas perilaku mereka. Untuk membangun budaya yang positif, aman, nyaman, dan menyenangkan agar murid-murid mampu berpikir, bertindak, dan mencipta dengan merdeka, mandiri, dan bertanggung jawab. Disiplin sangat berkaitan dengan kontrol guru terhadap murid.

2.       Disiplin Positif dan Nilai-Nilai Kebajikan Universal

Disiplin positif bukan hanya tentang hukuman, melainkan upaya untuk membimbing murid agar mampu mengatur diri sendiri dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang telah disepakati bersama. Nilai-nilai kebajikan seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati menjadi dasar dalam membangun disiplin positif. Diane Gossen menyatakan bahwa arti dari kata disiplin berasal dari bahasa Latin, 'disciplina', yang artinya 'belajar'. Kata 'discipline' juga berasal dari akar kata yang sama dengan 'disciple' atau murid/pengikut. Untuk menjadi seorang murid, atau pengikut, seseorang harus paham betul alasan mengapa mereka mengikuti suatu aliran atau ajaran tertentu, sehingga motivasi yang terbangun adalah motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik. kata disiplin ini juga berkonotasi dengan disiplin diri dari murid-murid Socrates dan Plato. Disiplin diri dapat membuat seseorang menggali potensinya menuju kepada sebuah tujuan, sesuatu yang dihargai dan bermakna. Dengan kata lain, disiplin diri juga mempelajari bagaimana cara kita mengontrol diri, dan bagaimana menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu pada nilai-nilai yang kita hargai. Namun dalam budaya kita, makna 'disiplin' telah berubah menjadi sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang lain untuk mendapatkan kepatuhan. Kita cenderung menghubungkan kata 'disiplin' dengan ketidaknyamanan, bukan dengan apa yang kita hargai atau dengan nilai-nilai yang mereka percaya Tujuan disiplin positif adalah menanamkan motivasi intrinsik pada murid untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri nilai-nilai yang mereka percaya.

Nilai-nilai kebajikan adalah sifat-sifat positif manusia yang merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu. Nilai-nilai tersebut bersifat universal dan lintas bahasa, suku bangsa, agama maupun latar belakang. Setiap perilaku/perbuatan memiliki suatu tujuan (Dr. William Glasser pada teori kontrol, 1984) Dengan mengaitkan nilai-nilai kebajikan yang diyakini seseorang maka motivasi intrinsiknya akan terbangun, sehingga menggerakkan motivasi dari dalam untuk dapat mencapai tujuan mulia yang diinginkan (Diane Gossen, 1998). Dari nilai-nilai inilah disiplin positif dari dibangun.

 

3.       Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi

Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, menyatakan ada 3 motivasi perilaku manusia:

1.       Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman. Ini adalah tingkat terendah dari motivasi perilaku manusia. Biasanya orang yang motivasi perilakunya untuk menghindari hukuman atau ketidaknyamanan, akan bertanya, apa yang akan terjadi apabila saya tidak melakukannya?

2.       Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Satu tingkat di atas motivasi yang pertama, disini orang berperilaku untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Orang dengan motivasi ini akan bertanya, apa yang akan saya dapatkan apabila saya melakukannya?

3.       Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Orang dengan motivasi ini akan bertanya, saya akan menjadi orang yang seperti apabila saya melakukannya?

4.    Keyakinan Kelas

Suatu keyakinan akan lebih memotivasi seseorang dari dalam atau memotivasi secara intrinsik (dari dalam diri). Seseorang akan lebih tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, dari pada hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan tertulis tanpa makna.

1)      Mengapa kita memiliki peraturan tentang penggunaan helm pada saat mengendarai kendaraan roda dua/motor?

(Kemungkinan jawaban Anda adalah untuk 'keselamatan').

2)      Mengapa kita memiliki peraturan tentang penggunaan masker dan mencuci tangan setiap saat?

(Kemungkinan jawaban Anda adalah 'untuk kesehatan dan/atau keselamatan').

Untuk mendukung motivasi intrinsik, kembali ke nilai-nilai/keyakinan-keyakinan lebih menggerakkan seseorang dibandingkan mengikuti serangkaian peraturan-peraturan.

5.       Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas

5 (lima) Kebutuhan Dasar Manusia

Seluruh tindakan manusia memiliki tujuan tertentu. Semua yang kita lakukan adalah usaha terbaik kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, sebetulnya saat itu kita sedang memenuhi satu atau lebih dari satu kebutuhan dasar kita, yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), kasih sayang dan rasa diterima (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun), dan penguasaan (power). Ketika seorang murid melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan, atau melanggar peraturan, hal itu sebenarnya dikarenakan mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar mereka. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat satu persatu kelima kebutuhan dasar ini.

6.       Restitusi - 5 (lima)  Posisi Kontrol Guru

Diane Gossen dalam bukunya Restitution-Restructuring School Discipline (1998) mengemukakan bahwa guru perlu meninjau kembali penerapan disiplin di dalam ruang-ruang kelas mereka selama ini. Apakah telah efektif, apakah berpusat, memerdekakan, dan memandirikan murid, bagaimana dan mengapa? Melalui serangkaian riset dan berdasarkan pada teori Kontrol Dr. William Glasser, Gossen berkesimpulan ada 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman, Pemantau dan Manajer.

7.       Segitiga Restitusi

Diane Gossen dalam bukunya Restitution; Restructuring School Discipline, (2001) telah merancang sebuah tahapan untuk memudahkan para guru dan orangtua dalam melakukan proses untuk menyiapkan anaknya untuk melakukan restitusi, bernama segitiga restitusi/restitution triangle. 3 sisi dari Segitiga Restitusi yaitu: Menstabilkan Identitas, Validasi tindakan yang salah, dan Menanyakan keyakinan.

 

Penutup

Modul budaya positif memberikan kerangka kerja komprehensif untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif dan berpihak pada murid. Dengan menerapkan prinsip-prinsip dalam modul ini, kita dapat membantu murid tumbuh menjadi individu yang mandiri, bertanggung jawab, dan berkarakter profil pelajar pancasila. Demikian hasil diseminasi yang telah saya rangkum menjadi artikel pada blog pribadi saya. Berikut video diseminasi saya https://www.youtube.com/watch?v=58MrQOEQHSM

Sila tinggalkan komentar dan saran demi perbaikan tulisan saya ke depan.

Selasa, 02 Juli 2024

Kesimpulan dan refleksi pengetahuan serta pengalaman baru yang dipelajari dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara

 Assalamualaikum Wr. Wb..

 

Perkenalkan, Nama saya Rison, S.Pd. Saya adalah calon guru penggerak angkatan 11 dari SMP Negeri 12 Prabumulih. Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan kesimpulan dan refleksi pengetahuan serta pengalaman baru yang dipelajari dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara.

 

Kesimpulan

Ki Hajar Dewantara adalah pelopor pendidikan di Indonesia, Beliau bangsawan Jawa dengan  nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, lahir pada tanggal 2 Mei 1889. Pada jaman  kolonial pendidikan sangatlah terbatas, dari kalangan masyarakat biasa diajarkan  pembelajaran membaca menulis dan berhitung dasar dengan tujuan untuk membantu  perdagangan para pemilik kongsi/pedagang hindia belanda dan hanya peserta didik-peserta didik bangsawan  yang bisa sekolah untuk mendidik calon pagawai. Dari sini dapat kita pahami bahwa pendidikan di Indonesia saat itu terbilang amatlah sempit karena mengadopsi gaya belajar kolonial/penjajahan. Maka, lahirlah bapak Ki Hajar Dewantara dalam memperkenalkan filosofis pendidikan di tanah air.

Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, telah meninggalkan warisan pemikiran filosofis yang mendalam bagi dunia pendidikan. Mempelajari pemikirannya membuka cakrawala baru dalam memahami hakikat pendidikan dan peran pentingnya dalam memajukan bangsa khususnya bangsa Indonesia.

Dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara ini, saya memperoleh pengetahuan baru tentang konsep pendidikan yang berpusat pada peserta didik. Pendidikan bukan sekedar transfer ilmu pengetahuan, tetapi proses memanusiakan manusia. Peserta didik didik adalah kodrat alam dengan kodratnya sendiri, dan pendidik bertugas menuntun dan membimbing mereka untuk mencapai kodratnya tersebut.

Pengalaman baru yang saya dapatkan adalah penerapan filosofi "Tut Wuri Handayani". Guru bukan lagi sosok otoriter yang mendikte, tetapi menjadi fasilitator dan motivator bagi peserta didik. Pembelajaran di desain dengan berpihak pada peserta didik, berorientasi pada kebutuhan dan minatnya.

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara juga menekankan pentingnya pendidikan karakter. Pendidikan bukan hanya mengembangkan intelektualitas, tetapi juga budi pekerti dan akhlak mulia. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat, serta mewujudkan pemerataan, akuntabilitas, dan partisipasi masyarakat dalam bidang pendidikan.

 

Selanjutnya saya akan merefleksi diri melalu 3 pertanyaan berikut:

1.      Apa yang Anda percaya tentang peserta didik dan pembelajaran di kelas sebelum  Anda mempelajari modul 1.1?

Sebelum mempelajari modul 1.1 mengenai Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional – Ki Hajar  Dewantara, sebagai guru saya meyakini beberapa hal sebagai berikut:

1)      Saya meyakini kelas yang diam, peserta didik yang penurut merupakan gambaran kegiatan belajar yang ideal dalam proses pembelajaran.

2)      Saya percaya bahwa dengan memaksakan peserta didik menyelesaikan tugas/kegiatan sampai selesai membuat mereka lebih bertanggungjawab terhadap tugas yang diberikan.

3)      Saya memberikan hukuman kepada peserta didik yang tidak dapat menyelesaikan tugas dengan hukuman yang biasa saya terima saat bersekolah dulu misalnya dengan ancaman mengurangi jam istirahat mereka atau pulang lebih akhir.

4)      Saya tidak begitu mempedulikan apakah peserta didik sudah benar-benar paham terhadap materi atau tidak, karena fokus saya lebih mengejar ketuntasan materi dalam setiap semester atau tahun.

5)      Saya hanya meminta peserta didik menghafal dan mengingat materi yang saya ajarkan tanpa memikirkan bagaimana proses materi tersebut dapat dipahami dengan sepenuhnya oleh peserta didik.

6)      Saya sering merasa gagal dan mengeluh jika banyak peserta didik yang tidak tuntas setelah  melakukan evaluasi/ulangan.

 

2.      Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku Anda setelah mempelajari  modul ini?

Setelah saya mempelajari modil 1.1 tentang Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara banyak  pemahaman yang saya dapatkan. Saya merasa kagum dengan filosofi pendidikan Ki Hajar  Dewantara, bagaimana selama ini saya telah membunuh karakter mereka sebagai peserta didik,  memaksakan kehendak saya sebagai orang yang lebih tahu segalanya dibandingkan mereka. Pemikiran KHD terhadap pendidikan sangat luas dan mendalam serta membuat saya mengerti bagaimana sebaiknya memperlakukan peserta didik dalam proses pembelajaran. Seharusnya saya lebih memberi dorongan dan tuntunan terhadap segala kekuatan qodrat yang dimiliki peserta didik agar ia  mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Guru sebagai  among yang menuntun segala qodrat pada peserta didik yaitu qodrat alam dan qodrat zaman. Qodrat alam yang di miliki peserta didik yaitu kemampuan atau potensi yang di miliki peserta didik sejak lahir, hanya saja masih seperti garis samar, tugas saya sebagai seorang guru adalah menebalkan garis samar tersebut. Misalnya kemampuan yang dimiliki peserta didik yang semula belum baik maka dituntun  untuk menjadi baik dan yang sudah baik dituntun menjali lebih baik lagi. Seorang guru yang sebagai among menuntun peserta didik untuk membangun pengetahuan dan budi pekerti, agar  mereka memerdekakan diri sendiri dan orang lain. Pendidik dan seluruh warga sekolah harus menanamkan nilai-nilai karakter budi pekerti agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Pendidik juga harus menghargai keragaman, bahwasanya setiap peserta didik mempunyai sifat unik yang mana mereka mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Tentunya karakteristik peserta didik yang berbeda-beda tersebut tidaklah sama penanganannya. Sebagai pendidik saya harus terbuka namun tetap waspada terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Kodrat alam peserta didik berbeda-beda. Kodrat alam peserta didik yang tinggal di pedesaan akan beda kodratnya dengan peserta didik yang tinggal di wilayah perkotaan. Mereka akan  memiliki potensi, bakat dan minat yang berbeda. Maka sebagai pendidik saya harus menyadari bahwa setiap  peserta didik itu beragam dan mempunyai keunikan masing-masing. Sedangkan kodrat zaman  berhubungan dengan zaman yang dialami oleh peserta didik pada saat pengajaran atau  pendidikan berlangsung. Untuk pendidikan saat ini, para pendidik harus menekankan pada  kemampuan peserta didik untuk memiliki keterampilan abad ke 21.

3.      Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar kelas Anda  mencerminkan pemikiran KHD?

Setelah mempelajari filosofis pemikiran Ki Hajar Dewantara, ada beberapa hal yang harus saya ubah. Meskipun perubahan itu tidak seluruhnya namun saya berkomitmen untuk memulai perubahan mengajar di kelas yang dimulai dari hal-hal kecil. Secara umum, saya akan memberi berbagai hak mereka sebagai peserta didik yang merdeka sebagi insan yang  memiliki kebebasan dalam menentukan mana yang mereka sukai, minati dan mana yang  tidak layak diberikan sebagi sebuah bentuk paksaan atau ancaman, saya akan memberikan tuntunan kepada  setiap individu dari peserta didik saya untuk mereka mengekspresikan apa yang mereka inginkan, apa yang mereka butuhkan, dan apa yang mereka miliki untuk saya asah, saya tuntun  dan saya ayomi. Saya akan memberikan mereka kemerdekaan untuk memilih cara belajarnya sendiri, untuk memilih kegiatan dalam belajar sesuai dengan minat  dan kebutuhan peserta didik, saya tidak akan memaksa peserta didik untuk mengerjakan suatu kegiatan sampai selesai dan baru bisa menilainya, karena kemampuan peserta didik hanya bisa di lihat dari  prosesnya bukan hasilnya.

Selain itu saya juga harus lebih ikhlas dan sabar agar terwujud pembelajaran yang menyenangkan dan berpusat pada peserta didik. Sesuai apa yang saya sampaikan di atas, setiap peserta didik lahir dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. Khususnya kodrat zaman, saya sebagai pendidik memastikan setiap kemampuan peserta didik memiliki keterampilan abad ke 21 seperti (kreatif, berpikir kritis, kolaborasi, dan komunikasi).

Selain itu, untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, menarik dan inovatif saya harus merencanakan pembelajaran dengan matang dan menyiapkan  kegiatan pembelajaran yang beragam dengan berbagai aktivitas ragam permainan, menyisipkan ice breaking, pembelajaran berdiferensiasi, selain itu juga terkadang  kami melakukan kegiatan pembelajaran dilingkungan luar kelas dengan belajar di alam  terbuka seperti petualangan dan penjelajahan. Hal ini selain dalam rangka menghilangkan rasa jenuh juga untuk memberikan pengalaman yang nyata (kontekstual)  tentang alam dan lingkungan sekitar mereka, belajar memahami apa yang ada di lingkungan mereka, belajar berinteraksi dengan lingkungan untuk menumbuihkan rasa cinta  dan mengenal kearifan lokal dilingkungannya agar mereka merasa bangga dan mau untuk  melestarikannya baik dari aspek sosial, ekonomi maupun budaya.

 

Salam Guru Penggerak!!!

Tergerak, bergerak, menggerakkan!

 

Wassalamualaikum Wr. Wb..

Senin, 26 September 2022

Menyusun Cerita Praktik Baik (Best Practice) Menggunakan Metode STAR (Situasi, Tantangan, Aksi, Refleksi Hasil dan Dampak) Terkait Mengatasi Permasalahan Peserta Didik Dalam Pembelajaran

Lokasi                                      : SMP Negeri 12 Prabumulih 
Lingkup Pendidikan                 Sekolah Menengah Pertama
Tujuan yang ingin dicapai       Upaya meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas IX 
                                                  SMP Negeri 12 Prabumulih pada materi kebugaran jasmani
Penulis                                     : Rison, S.Pd. 
Tanggal                                    : 28 September 2022 

Situasi: 
Kondisi yang menjadi latar belakang masalah, mengapa praktik ini penting untuk dibagikan, apa yang menjadi peran dan tanggung jawab anda dalam praktik ini. 
Peralihan PJJ ke PTM membuat motivasi belajar peserta didik menurun, terjadinya loss learning pada saat PJJ mengakibatkan banyak perubahan sikap dan pola pikir pada peserta didik yang berdampak pada pembelajaran dan stamina siswa. Oleh karena itu, peserta didik merasa bosan dan mudah lelah pada saat pembelajaran PJOK karena terbiasa bermain di rumah dengan teman dan gadgetnya. Perubahan yang terjadi seperti: 
1. Malas sekolah 
2. Malas mengerjakan soal yang diberikan guru 
3. Sering mengobrol pada saat pembelajaran 
4. Malu dalam mengungkapkan pendapat 
5. Ingin cepat pulang saat berada di sekolah 
6. Memiliki tingkat kebugaran jasmani yang rendah 
Kondisi ini diperparah dengan kurangnya pemanfaatan media ajar yang menarik dan model pembelajaran inovatif yang diterapkan guru selama proses pembelajaran. 

Tantangan : 
Apa saja yang menjadi tantangan untuk mencapai tujuan tersebut? Siapa saja yang terlibat? 
Setelah dilakukan identifikasi masalah, refleksi diri, wawancara guru, kepala sekolah, dan pakar serta kunjungan ke rumah peserta didik, maka beberapa tantangan yang timbul yaitu: 
1. Kurangnya pengawasan dan motivasi yang diberikan orang tua kepada anaknya 
2. Peserta didik terbiasa dengan gadget dan media sosial sehingga fokus anak berubah 
3. Hilangnya kepercayaan diri peserta didik 
4. Rendahnya stamina atau tingkat kebugaran jasmani.
Tantangan dari sisi peserta didiknya sangat berdampak pada proses pembelajaran di sekolah.  Ada juga tantangan yang ada di sekolah seperti: 
1. Faktor guru dalam pemilihan media ajar dan kurangnya pemanfaatan TPACK di kelas 
2. Model pembelajaran yang belum relevan dengan kebutuhan peserta didik 
3. Proses penilaian pembelajaran yang adil, objektif, dan transparan bagi semua siswa. 
4. Ruang kelas yang kurang nyaman ketika digunakan peserta didik. 
Tantangan itu yang menyebabkan seorang guru harus mengatasinya dengan cara yang profesional seperti menerapkan media ajar yang sesuai dengan gaya belajar peserta didik serta model pembelajaran yang mendukung. 

Aksi : Langkah-langkah apa yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut/ strategi apa yang digunakan/ bagaimana prosesnya, siapa saja yang terlibat / Apa saja sumber daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini? 
Tantangan yang ada di atas harus segera diselesaikan dengan baik oleh seorang guru profesional, diantaranya yaitu: 
1. Berkaitan dengan media ajar dan pemanfaatan TPACK Guru bisa menggunakan media konkrit yang ada di sekitar sekolah sehingga peserta didik bisa lebih mengenal media yang ada di sekitarnya. Jika media konkrit sudah ada, bisa juga dikolaborasikan dengan berbasis TPACK sehingga peserta didik lebih mudah memahami materi yang disampaikan. Kali ini menggunakan media pembelajaran berbasis digital yaitu Canva dalam penerapan model PjBL yang dikombinasikan dengan Youtube. 
2. Berkaitan dengan model pembelajaran Guru juga diyakini mampu menerapkan berbagai model pembelajaran (PjBL, PBL, Inquiry, SOLE, Flipped Classroom, Discovery learning, dsb) dan sudah hafal dengan sintaks dari model pembelajaran yang akan dipilihnya mulai dari tahap awal hingga akhir yang dituangkan dalam kegiatan pembuka, inti, dan penutup. Tidak lupa, guru juga menyelipkan ice breaking disela-sela pembelajaran untuk mengatasi kejenuhan. 
3. Berkaitan dengan penilaian Seorang guru juga dituntut untuk menilai secara keseluruhan dari ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Guru juga menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dari tingkat kemampuan siswa yang dipadukan dengan teknologi seperti google form, upload bukti karya, dan lain-lain. Tentunya juga dalam instrumen yang lengkap mulai dari kisi-kisi, indikator ketercapaian setiap ranah, dan rubrik penilaian untuk melengkapi penilaian di akhir pembelajaran. 
4. Berkaitan dengan kondisi ruangan Guru bisa mendesain ruangan seperti mengubah posisi tempat duduk dan pemilihan tempat duduk antar siswa. Selain itu peningkatan kebersihan, kerapian, dan keindahan sehingga peserta didik memiliki motivasi belajar yang tinggi karena merasa nyaman berada di kelas. 

Refleksi Hasil dan dampak : Bagaimana dampak dari aksi dari Langkah-langkah yang dilakukan? Apakah hasilnya efektif? Atau tidak efektif? Mengapa? Bagaimana respon orang lain terkait dengan strategi yang dilakukan, Apa yang menjadi faktor keberhasilan atau ketidakberhasilan dari strategi yang dilakukan? Apa pembelajaran dari keseluruhan proses tersebut? 
Dampak dari penerapan media berbasis TPACK yang diimplementasikan yaitu berbasis digital serta dipadukan dengan model pembelajaran PjBL membuat peserta didik lebih bersemangat dan tidak cepat bosan dalam pembelajaran, karena pada saat pembelajaran peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok dan setiap kelompok menjawab atau mempresentasikan masalah yang diberikan guru. Dengan menggunakan model PjBL ini peserta didik lebih termotivasi daripada menggunakan model pembelajaran konvensional terlihat dari indikator keaktifan yang meningkat dibanding sebelum penggunaan model PjBL. 
Sekian & Terima kasih 
=========================================================================
Berikut Link Video PPL saya mengenai pemanfaatan model pembelajaran inovatif:





dan jangan Lupa Subscribe Channel Youtube saya: (20) Rison - YouTube

Kamis, 09 Juli 2020

Pengalamanku di SAGUSABLOG

    Beberapa waktu lalu sekitar awal bulan Juni saya mendapatkan informasi dari rekan sesama anggota IGI wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) untuk mengikuti Diklat Daring Mc. Teams, nah dari diklat daring tersebut, saya juga mendapatkan informasi tambahan berupa pelatihan gratis yang diselenggarakan IGI yaitu pelatihan tentang pembuatan blog. Pelatihan ini menarik perhatian saya bukan karena gratis namun juga diberikan sertifikat 34 jam, "lumayan untuk mengisi waktu luang di masa Pandemi COVID 19" pikirku.

Selasa, 07 Juli 2020

Buku PJOK SMP/MTs Kelas VIII

Anak-anak kelas VIII, berikut bapak berikan materi berupa ebook yang dapat kalian baca langsung di Smartphone kalian adengan cara di unduh (download) terlebih dahulu.

Bab 3 - Aktivitas Atletik Kelas VII

Anak-anak kelas VII, berikut bapak berikan materi berupa ebook yang dapat kalian baca langsung di Smartphone kalian adengan cara di unduh (download) terlebih dahulu.